26 Juli 2011
Tiba di lobby hotel, panitia langsung membagi-bagi kamar buat kami. Tentu saja kamar peserta yang masih bertahan dipisahkan dengan peserta yang sudah gugur. Saat itu aku satu kamar dengan seorang peserta asal Jakarta bernama Eggy. Sementara aku, Ovan dan Ibnu memutuskan untuk beristirahat sesampainya di hotel, teman-teman yang lain banyak yang mengambil langkah untuk berlatih malam, atau lebih pantas aku sebut subuh itu juga. Otak ini pun berhasrat untuk berlatih juga sebenarnya, namun apa daya..badan tak bisa diajak bekerjasama. Sampai kamar masih harus mandi untuk menghilangkan penat setelah seharian mengikuti audisi, pun mempersiapkan pakaian untuk audisi pagi nanti. Pukul 3 mata terpejam. Rasa-rasanya baru sesaat badan ini rebah di tempat tidur..alarm sudah berbunyi. Memaksa aku untuk bangkit. Sejenak aku terdiam sambil terduduk di pinggir tempat tidur. Mengumpulkan nyawa..mengumpulkan semangat..mengumpulkan segenap energi untuk audisi hari ini. “Bakal kembali menjadi hari yang melelahkan!!”, pikirku.
Pukul 7 aku dan Eggy turun untuk sarapan. Di tempat sarapan kami berpisah untuk sarapan bersama grup kami masing-masing. Sambil sarapan satu meja bersama Ovan dan Ibnu, kami berbincang-bincang mengenai apa yang akan kami suguhkan untuk audisi hari itu. Arransemen vocal dan gaya bernyanyi macam apa yang akan kami persembahkan di depan dewan juri untuk lagu “Kala Cinta Menggoda”. Aku beruntung karena ternyata Ovan dan Ibnu adalah tipe orang yang enak diajak bekerjasama. Tak ada masalah sama sekali mengenai pembagian suara, koreografi, dll. Sementara pada beberapa grup, aku menyaksikan ‘drama’ tersaji disana. Kebanyakan sih peserta yang egois dengan kemauannya, memaksakan kehendaknya sendiri pada grupnya . Yang kasihan adalah peserta yang ‘kehilangan’ suaranya, mungkin karena kelelahan, sehingga hanya bisa menangis karena dihantui perasaan bersalah tidak akan bisa membantu grupnya dengan maksimal, atau pikiran bahwa kondisinya saat itu tidak akan bisa membawa dia untuk lolos ke tahap berikutnya. Entahlah. Aku juga tak mau terlalu ambil pusing dengan pemandangan yang aku lihat. Bukannya aku egois, namun saat itu grupku yang paling penting yang harus aku perhatikan. Lagipula aku tak terlalu kenal dengan peserta yang lain. Nanti dikira sok akrab dan ikut campur lagi.
Kurang lebih pukul 9 kami diberangkatkan menuju tempat audisi di Teater Kautaman. Tak sampai satu jam kemudian kami tiba. Kami harus registrasi ulang kembali. Panitia mem-briefing kami kembali di holding room mengenai apa yang akan kami lakukan hari itu. Setelah panitia selesai menjelaskan, kami langsung digiring masuk ke dalam Teater Kautaman untuk berlatih bersama pianist bernama mbak Astrid Lea. Seru rasanya!! Pertama para wanita naik ke atas panggung, dengan grupnya masing-masing. Musik mengalun memainkan lagu “Warna” yang dipopulerkan oleh Sheila Majid. semua grup bernyanyi bersamaan dengan arransemen vocal dan ciri khas mereka masing-masing. Menakjubkan!! Belum pernah aku mendengar dan menyaksikan segerombolan orang bersuara emas bernyanyi seindah ini secara bersamaan. Terdengar berlebihan?? Tak apalah. Setelah para wanita selesai berlatih, tiba giliran kami para pria untuk berlatih bersama pianist. Yang kami lakukan kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan oleh wanita tadi. Mungkin para wanita juga terkagum-kagum mendengar koor suara kami seperti yang tadi aku rasakan waktu mendengar mereka bernyanyi. Ah, aku GR sekali..
Latihan selesai. Kami kembali ke holding room untuk istirahat makan siang. Katanya audisi baru akan dimulai sekitar jam 2-3 sore, hingga setelah beres makan siang kami masih punya cukup waktu untuk kembali berlatih, atau untuk sekadar mengingat lirik ataupun koreografi.
Waktu berjalan. Saatnya audisi. Para wanita yang akan audisi duluan. Kami, para peserta pria menjadi penonton sekaligus penyemangat mereka. Satu persatu grup bermunculan menampilkan suguhan terbaik mereka yang langsung disusul komentar dari para dewan juri tentang penampilan mereka. Komentar positif, komentar usil, dan aneka komentar lainnya bermunculan. Senyum puas, kecewa, sedih, bahkan ekspresi datar pun hadir dari para peserta wanita meresponi komentar dewan juri. Akhirnya selesai audisi grup wanita. Audisi rehat sejenak. Audisi grup peserta pria pun tiba. Giliran para peserta wanita yang menjadi penonton dan menyemangati kami.
Audisi dimulai. Tiba giliran grupku tampil. Gemetar, senang, deg-degan, excited..semuanya campur jadi satu. Meskipun tampil secara grup, namun penilaian tetap perorangan. Apakah secara individu mampu bernyanyi dengan baik, dan apakah sebagai individu juga mampu bekerja sama dengan orang lain dalam grup?? Terlihat mudah namun ternyata tidak. Gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Satu hal yang aku tekankan dalam hati.. jangan sampai aku membuat kesalahan yang bisa merugikan diriku sendiri yang tentunya juga berdampak pada grupku. God..please sing with me..
Sejak jumpa kita pertamaKulangsung jatuh cinta
walau kutahu kau ada pemiliknya
Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani
Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini
Maka ijinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkah ku sekedar sayang padamu..
Memang serba salah rasanya
Tertusuk panah cinta
Apalagi juga ada pemiliknya
Tapi ku tak mampu membohongi hati nurani
Ku tak mampu menghindari gejolak cinta ini
Maka maafkan jika ku mencintaimu
Atau biarkan ku mengharap kau sayang padaku..
Puji Tuhan, dewan juri memberikan komentar positif akan penampilan kami!! Kami bertiga bisa bernafas lega ketika turun dari panggung audisi. Kami bertiga sadar betul, komentar bagus dari dewan juri tidak berarti meloloskan kami bertiga ke tahap berikutnya. Bisa jadi kami bertiga tidak lolos, atau hanya satu atau dua dari kami yang lolos. Entahlah. Segala kemungkinan bisa terjadi. Namun apapun keputusannya nanti, satu hal..kami tidak akan menyesal, karena kami telah mempersembahkan penampilan terbaik kami.
Audisi grup pria berakhir menjelang waktunya makan malam. Sambil menunggu pengumuman, kami mengisi waktu dengan mengobrol, bercanda, dan banyak pula yang tidur. Capek tauk!! Hehehe. Jam 8 malam..jam 9..jam 10..pengumuman tak kunjung tiba. Kata panitia, dewan juri terlibat diskusi yang sangat alot sehingga butuh banyak waktu untuk menentukan 42 peserta yang berhak melaju ke audisi terakhir keesokan harinya dari 70 peserta di audisi hari kedua ini. Menjelang tengah malam panggilan itu tiba. Saatnya pengumuman. Campur aduk rasanya. Deg-degan, pengen pipis dan masuk angin berkolaborasi dengan sangat sukses di badan ini. Satu persatu grup dipanggil untuk masuk ke dalam Teater Kautaman. Setelah diumumkan, peserta yang lolos akan kembali ke holding room, berkumpul bersama kami peserta lain yang belum mengetahui nasib kami. Sementara peserta yang tidak lolos dipisahkan, menunggu di ruangan lain. Peserta wanita yang terlebih dulu menerima pengumuman. Ketika peserta yang lolos datang memasuki holding room tempat kami menunggu, tentu saja kami ikut senang dengan kelolosan mereka. Namun disaat bersamaan beban dihati tak kalah beratnya. Apakah aku nanti akan menjadi peserta yang kembali ke ruangan ini atau aku akan berkumpul bersama peserta di ruangan lain??
Tiba juga moment of truth. Aku diapit Ovan dan Ibnu berdiri di panggung itu. Berhadapan dengan dewan juri di seberang sana. Menanti nasib kami masing-masing. Aku masih ingat benar kejadian saat itu..
“Ovan dan Ronald maju ke depan”, salah satu juri berujar.
Entah sengaja atau tidak, namun dewan juri rasanya lama sekali membacakan pengumuman buat grupku saat itu. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Seperti kita tahu bila menunggu, waktu yang sebentar juga terasa lama jadinya. Meskipun aku dan Ovan berdiri di depan dan Ibnu di belakang, belum tentu aku dan Ovan yang lolos. Bisa jadi malah Ibnu yang lolos. Atau ternyata kami bertiga lolos, pemisahan siapa berdiri di depan dan belakang bias jadi hanya trik dewan juri untuk membuat kami tegang. Semua kemungkinan bisa terjadi.
“Dan….Ovan,Ronald selamat kalian lolos ke babak berikutnya. Buat Ibnu, maaf perjalanan kamu selesai sampai disini.”, retas dewan juri memecah ketegangan kami.
Puji Tuhan aku lolos!! Tapi aku tak mau berekspresi berlebihan, aku hanya tersenyum dan menyalami Ovan. Aku harus menjaga perasaan Ibnu. Lalu kami bertiga saling berpelukan. Pelukan tanda selamat. Pelukan untuk menguatkan Ibnu. Pelukan perpisahan.
Aku dan Ovan kembali ke holding room. Diselamati peserta yang sudah lolos dan peserta yang belum menerima pengumuman. Sampai akhirnya yang tersisa di ruangan itu adalah 42 orang yang berhak melaju ke babak audisi terakhir keesokan harinya. Baru senang sebentar, panitia sudah hadir kembali memberikan pengumuman mengenai persiapan untuk audisi besok. Kami akan tampil solo menggunakan minus one. Panitia memberikan beberapa lagu pilihan untuk pria dan wanita. Kami masing-masing diberi materi lagu-lagu pilihan itu dan walkman, disuruh langsung mendengarkan dan dalam waktu setengah jam harus sudah memutuskan dan memberi tahu panitia lagu apa yang kami pilih. Untuk pilihan lagu pria ada lagu “You Can’t Hurry Love” - Phil Collins, “Hanya Memuji” – Shanti feat. Marcell dan “Arti Cinta” – Ari Lasso. Saat itu aku dengan mantap memilih “Hanya Memuji”. Aku rasa itu yang paling cocok dengan karakter suaraku dan aku sudah tidak asing dengan lagu itu. Semua peserta memberikan lagu pilihan mereka kepada panitia. Saatnya pulang. Seperti biasa..tiba di hotel jam 2 dini hari lagi. Sekamar dengan peserta asal Surabaya bernama Eddo. Lelah. Esok seperti apa ya?? Ahh..biarkan itu menjadi rahasia Sang Penguasa. Aku cuma ingin tidur malam ini..
Label: indonesian idol
23 Februari 2010
Briefing telah selesai, dilanjutkan dengan makan siang. Jam 1 siang, babak eliminasi pun DIMULAI!!!
Aku masuk di kelompok tiga. Dan aku sudah sangat mantap untuk membawakan lagu I Care About You - Babyface. Saat itu kurang lebih pukul 4 sore dan tiba giliran kelompokku untuk diaudisi. Ketegangan semakin memuncak karena melihat ekspresi bahagia dari teman-teman yang telah diaudisi dan lolos ke babak berikutnya.
Kelompokku akhirnya tiba di panggung itu. Aku berada di urutan kelima di barisan kelompokku.
Tiba giliranku bernyanyi.
"Nama saya Ronald. Nomor peserta 1283. Saya dari Bandung dan akan membawakan I Care About You-nya Babyface."
Selesai sudah sepuluh peserta bernyanyi. Aku pribadi sangat sulit menentukan kira-kira siapa yang akan lolos ke babak berikutnya karena suara seluruh peserta yang sangat bagus.
Diskusi dewan juri berjalan cukup alot. Lima menit terasa begitu lama. Sampai akhirnya dewan juri memanggil 5 nomor untuk maju ke depan. Aku tak termasuk di dalamnya. Rasa pesimis merasuki kalbu, entah mengapa aku berpikir kalau yang akaj lolos adalah mereka yang dipanggil ke depan. Kemudian juri yang diwakili oleh Titi DJ berkata,
"Terimakasih buat semuanya, luar biasa sekali penampilannya sampai kami kesulitan untuk menentukan siapa yang berhak maju ke babak berikutnya. Namun bagaimanapun kami harus memutuskan. Kepada yang ada di barisan belakang..MAAF SEKALI...kalian harus tinggal lebih lama untuk mengikuti babak eliminasi esok hari. Dan buat yang di depan, terimakasih kalian sudah memberikan yang terbaik".
Puji Tuhan!! Aku dan 4 orang temanku yang berada di barisan belakang berteriak tanda syukur. Tak lupa mengucapkan perpisahan kepada 5 teman kami yang tidak lolos saat itu. Senaaaaaang sekali rasanya. Beban berat terasa terangkat saat itu juga. Aku dan 4 orang temanku bergerak ke pintu sebelah kiri panggung, dan Irgi, Host Indonesian Idol saat itu, langsung menginterview kami lengkap dengan sorot kamera. Kami berekspresi mengungkapkan rasa bahagia kami.
Ucapan selamat kembali bergulir di ruang tunggu. Baik dari teman-teman yang telah lolos seperti kami, maupun dari para peserta yang sedang menunggu giliran bernyanyi.
Sisa hari itu aku jalani dengan tenang karena telah lolos di hari pertama. Namun ada rasa cemas juga menanti audisi di hari esok.
Jam 12 malam, audisi hari pertama baru selesai, dengan menyisakan 70 orang. Kemudian panitia memberikan briefing untuk audisi keesokan harinya. Kami harus membentuk trio sendiri terpisah antara pria dan wanita. Saat itu aku mendapatkan ajakan untuk sekelompok trio bersama Ibnu dan Ofan.
Lagu wajib untuk trio pria adalah "Kala Cinta Menggoda" dan untuk trio wanita adalah "Warna Warna". Malam itu kami sudah cukup lelah. Sampai hotel jam 2 pagi. Aku, Ibnu, dan Ofan memutuskan mulai berlatih besok setelah sarapan.
Cukup melelahkan hari ini. Saatnya untuk beristirahat.
Label: indonesian idol
10 Februari 2010
Karena macet, jam 12 siang kami baru sampai di Jakarta. Tak aku sangka ternyata bis langsung membawa kami ke Studio RCTI di Kebon Jeruk. Chaperon kami mengatakan bahwa kami akan melakukan beberapa kegiatan di studio RCTI sampai sore, dimulai dengan makan siang, lalu foto peserta perkota, VT dokumentasi dan konferensi pers. Ya..aku salah busana, aku harus segera berganti pakaian. Seluruh peserta turun, tinggal aku yang sengaja diam di dalam bis untuk berganti pakaian. Selesai berganti pakaian yang lebih pantas, aku menyusul teman-teman yang lain menuju studio. Selesai makan siang, kami langsung diboyong untuk foto rombongan perkota, dan dilanjutkan dengan VT. VT ini kami diminta menyebutkan nama, umur dan motivasi kami mengikuti Indonesian Idol di depan kamera untuk didokumentasikan. Aku berpikir apa ya yang akan kusebutkan tentang motivasiku, kalau motivasi hanya untuk mencari pengalaman tentunya sangat standard dan basi menurutku. setelah berpikir sejenak, aku menemukan ide gila tentang apa yang akan aku katakan nanti,hehe. Setelah menunggu antrian, akhirnya tiba juga giliranku. Begitu masuk ruang VT, kameramennya mengingatkan aku lagi : "Sebutkan nama, umur dan motivasi kamu mengikuti Indonesian Idol ini. Jangan yang standard ya motivasinya". Aku tersenyum mengiyakan.
"Nama saya Ronald, umur saya 24 tahun. Motivasi saya mengikuti Indonesian Idol karena saya adalah the next Indonesian Idol".
Ucapanku tadi disambut tepuk tangan kameramen dan beberapa orang crew disitu, "Gitu dong, bosen dari tadi denger motivasi cari pengalaman mulu!". Aku hanya bisa tertawa, karena sesungguhnya ucapanku tadi hanya bermodalkan nekat, aku tidak memiliki percaya diri setinggi itu. Kegiatan dilanjutkan dengan konferensi pers. Rombongan peserta perkota diperkenalkan oleh pihak RCTI kepada para wartawan yang sudah berkumpul di ruang konferensi pers. Bak selebriti rasanya menghadapi banyak kilau blitz kamera yang diarahkan pada kami. Khayalan melayang..seandainya aku menjadi finalis Indonesian Idol, blitz kamera tentunya bukanlah hal yang aneh. Khayalku terhenti ketika kutersadar oleh Chaperon yang menyuruh kami kembali ke dalam bis pertanda konferensi pers telah usai.
Kami dibawa ke Hotel Twin Plaza. Di lobby kami langsung dibagi kamar, satu kamar untuk 2 orang. Pembagian kamar berlangsung cukup lama, karena 150 peserta dibagi menjadi 75 kamar, itupun acak. Hari itu aku kebagian satu kamar dengan peserta dari Makassar yang aku lupa namanya. Setelah pembagian kunci kamar dan kami bertemu dengan teman sekamar kami masing-masing, kami belum diperbolehkan masuk kamar. Masih ada briefing untuk kegiatan babak eliminasi esoknya dan berlanjut dengan makan malam.
Jam 9 malam akhirnya kami bisa masuk kamar juga. Aku langsung mempersiapkan baju untuk esok hari, kemudian mandi. Berbincang-bincang sejenak dengan teman sekamarku, lalu kami pun tidur. Set alarm jam 5, karena karena jam 6 waktunya sarapan dan jam 7 harus sudah standby di lobby untuk mengikuti babak eliminasi di Theater Kautaman, TMII. Biasanya tidurku tak tenang bila akan mengikuti kegiatan menyenangkan sekaligus menegangkan seperti ini, namun saking lelahnya, aku bisa tidur nyenyak malam itu.
|..tangisan dan air mata..|
Idol, The Journey sebelumnya..
part 1
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
part 7
Label: indonesian idol
12 Februari 2009

Hidupku berlanjut. Bekerja di Rumah sakit sebagai Kasir. Masa kerjaku tak sampai 2 bulan lagi karena kontrak kerjaku akan segera berakhir. Hari-hari itu aku isi sambil mempersiapkan diriku untuk mengikuti Babak Eliminasi di Jakarta nanti. Babak yang akan dipenuhi oleh kurang lebih 150 orang terbaik dari 5 kota besar di Indonesia. Terkadang aku tidak percaya kalau aku menjadi bagian dari orang-orang itu. Senang..Bangga.
Beberapa kali pihak Fremantle sebagai Production House dari Indonesian Idol menelponku. Tentang keberangkatanku, persiapan lagu-lagu untuk Babak Eliminasi nanti, sampai ke masalah pakaian yang sebaiknya aku pakai ketika audisi nanti. Ada beberapa corak pakaian yang harus aku hindari karena akan tampak flicker di TV. Babak Eliminasi akan memakan waktu 1 minggu. Aku sudah meminta izin dan Bossku dengan senang hati memberikan cuti buatku. Bagaimanapun apa yang telah aku raih sejauh ini cukup membuat beliau bangga juga.
Tayangan audisi tiap kota audisi Indonesian Idol mulai ditayangkan di RCTI. Jumat jam 8 malam.Aku masih ingat, Jumat itu aku harus bekerja malam di Rumah Sakit, dan saat itu Bandung menjadi kota pertama yang disiarkan liputan audisinya. Hatiku tak menentu. Aku harus berkonsentrasi bekerja, namun tak sabar juga melihat video audisi dan liputan tentang aku akan ditayangkan di RCTI. Untungnya di ruang tempatku bekerja ada TV, jadi aku bisa bekerja sambil menonton TV. Remote TV aku pegang, waktu sudah menunjukkan pukul 8 kurang. Channel RCTI sudah terpasang. Tak boleh ada satu orangpun yang memindahkannya,hehehe. Detik terasa lambat berjalan. Hingga akhirnya tiba juga waktu yang kunanti. Tayangan audisi Indonesian Idol kota Bandung disiarkan juga. Saat itu pasien di UGD sepi, sehingga para perawat bisa ikut menonton juga bersamaku. Entahlah, namun ada rasa malu juga ketika akhirnya tayangan tentang aku muncul di TV. Decak kagum, canda dan banyak komentar muncul dari para suster dan teman-teman kerjaku. Mukaku memerah,hehehe. Senang rasanya mendapatkan dukungan dari orang-orang di tempat aku bekerja. Beberapa telepon dan SMS masuk ke handphoneku merespon tayangan tentang aku tadi, aku semakin tidak berkonsentrasi untuk bekerja,hehehe. Tapi aku harus mengembalikan konsentrasiku, aku tidak mau pekerjaanku berantakan hanya karena tayangan tadi.
Hari Senin aku sudah harus berangkat ke Jakarta. Audisinya sendiri baru dimulai pada hari Selasa, namun ada beberapa hal yang harus kami kerjakan pada hari Senin. Hari minggu, dibantu oleh Mama, aku mempersiapkan pakaian dan semua keperluanku selama audisi nanti. Aku mempersiapkan baju untuk 3 hari audisi. Walaupun bisa saja di hari pertama audisi aku gugur dan langsung dipulangkan ke Bandung. Namun panitia menyuruhku untuk mempersiapkan pakaian untuk 3 hari audisi. Ya, semoga saja aku bisa lolos dari 3 hari audisi ini, Amin. Besok jam 7 pagi aku beserta 29 peserta wakil Bandung harus berkumpul di Hotel Sukajadi untuk bersama-sama berangkat ke Jakarta. Setelah selesai packing, pukul 10 malam aku tidur. Lebih tepatnya berusaha untuk tidur. Mata ini terpejam,namun hati ini tak tenang. Pikiranku melayang-layang, tak sabar menanti hari esok yang penuh harapan. Entah setelah berapa lama, akhirnya aku tertidur. Pulas.
Aku tersentak oleh bunyi alarm yang membangunkan aku. Sudah pukul 5 pagi. Aku berdoa, membereskan tempat tidurku dan segera mandi. Kedua orangtuaku sudah bangun juga rupanya. Bapak menonton berita pagi di TV, sementara Mama mempersiapkan sarapan untukku. Sehabis mandi dan memastikan tidak ada yang tertinggal, kami duduk bersama dan berdoa. Mohon pimpinan Tuhan buat langkah yang akan aku ambil. Aku tidak berani meminta untuk terus lolos pada Tuhan, aku hanya minta Tuhan berikan yang terbaik untukku. Doa selesai, aku pun pergi bersama kedua orang tuaku. Taxi agak sulit dicari pagi itu, kamipun memutuskan untuk naik angkot ke Hotel Sukajadi. Angkot yang kami naiki kurang nyaman, sopirnya ugal-ugalan. Sampai ketika kami tiba di perempatan dago, sopir angkot yang kami naiki menerobos lampu merah dan nyaris bertabrakan dengan kendaraan lain. Aku dan kedua orang tuaku terlempar ke sisi lain mobil. Kelingking kiriku keseleo akibat menahan badanku sendiri. Orangtuaku memarahi si sopir yang dari tadi memang ugal-ugalan dalam mengendarai angkotnya. Kelingkingku berdenyut sakit. Apakah ini suatu pertanda?? Mudah-mudahan bukan pertanda buruk. Pukul 7 kurang kami telah tiba di Hotel Sukajadi, sudah banyak perserta yang berkumpul. Banyak yang mengenaliku,mungkin karena tayangan tentang audisiku baru ditayangkan hari Jumat kemarin. Setelah semua peserta berkumpul, tiba saatnya untuk kami pergi. Setelah berdoa bersama, kamipun berpamitan kepada orangtua masing-masing. Sampai jumpa Mama, Bapak..doakan aku. Jakarta..here i come..
|..tak akan ada..|
Label: indonesian idol
05 November 2008
Kurang lebih pukul 9 malam aku tiba di rumah. Lengang. Aku masuk ke kamarku, aku buka sepatu dan kutaruh postman bag-ku di tempat tidur. Aku segera mencari keberadaan orangtuaku. Aku pergi ke kamar orangtuaku sambil menenteng Golden Ticket tanda keberhasilanku. Aku lihat Mama sedang berbaring sambil membaca-baca majalah. Berusaha untuk tidak over react, aku mendatangi Mama di tempat tidurnya. Ingin aku bercerita dengan tenang, tapi gejolak ini terlalu besar untuk dibendung. Mama cukup bingung melihat gelagat anaknya yang cukup aneh malam itu. Apalagi ketika aku menunjukkan Golden Ticket itu. Lalu aku jelaskan kepadanya semuanya. Tentang aku yang mengikuti audisi Indonesian Idol diam-diam, tentang aku bertukar shift kerja dengan temanku demi mengikuti audisi ini, dan tetek bengek lainnya. Mamaku tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya juga. Tak lama Bapak datang ke kamar juga, rupanya beliau baru saja dari kamar mandi. Mau tak mau aku menceritakan lagi dari awal hal yang sama yang sudah aku ceritakan pada Mama. Tak apalah, ini Aku masih di kamar orangtuaku ketika tiba-tiba handphoneku berbunyi tanda ada panggilan masuk. Aku angkat.
“Selamat malam. Bisa bicara dengan Ronald?”, suara seorang perempuan di seberang
“Ya, saya sendiri. Ini siapa ya?”,tanyaku.
“Oh, saya *&%^$ dari Fremantle, yang audisi Indonesian Idol tadi”, jawabnya. Aku lupa siapa nama Mbak itu.
“
“Gini Nald, kamu
“Iya Mbak, di Rumah Sakit Santo Yusuf.
“Kita besok pagi mau ngeliput kamu waktu kamu lagi kerja di Rumah Sakit, ama keseharian kamu di rumah juga. Kira-kira boleh ga Nald ya?”, rentet Mbak itu.
“Oh gitu. Kalo di rumah sih bisa banget. Tapi kalo di Rumah Sakit musti izin dulu ke bagian Humas.”, aku menjelaskan.
“Bisa ga Nald kamu yang minta izin ke Rumah Sakit tentang hal ini? Kita sih besok rencana shooting pagi menjelang siang gitu. Kalo bisa kamu kasih kabar ke aku paling lambat jam 10 pagi, biar kita bisa siap-siap.”, rentetnya panjang.
“Ok deh Mbak, kemungkinan besar sih dizinin ama Rumah Sakit. Besok pagi aku ke Rumah Sakit ngurus perizinannya. Besok pagi aku kabarin secepatnya ke Mbak.”, jawabku tak kalah panjang.
“Ok deh, thx banget ya Nald. Selamat malam”, tutupnya.
“Malam.”,sahutku.
Pikirku melayang. “Bisa heboh nih!!”,batinku. Terbayang akan banyak orang yang melihatku ketika di liput esok hari. Orang tua dan gerombolan anak kecil yang memenuhi lorong gang rumahku. Karyawan Rumah Sakit juga para pasien yang sedang berobat di
Pagi menjelang. Aku lihat jarum jam sudah bertengger di pukul 7. Dengan mlas-malasan, aku berusaha untuk bangun. Sisa hujan semlaam menyisakan dingin yang luar biasa pagi ini, membuatku malas keluar dari selimut yang begitu hangat mememlukku. Tapi aku tak boleh mengikuti keinginan hatiku, aku harus segera bangun, mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit. Pukul 8 pagi aku tiba di Rumah Sakit. Setibanya disana aku langsung menghadap Bossku, aku menceritakan segala sesuatunya, audisiku dan tentang peliputanku ketika bekerja nanti. Untunglah dia mengerti. Beliau turut bergembira akan pencapaianku, meski belum seberapa tapi cukup membanggakan. Dalam sekali telpon saja, beliau langsung mendapatkan persetujuan dari bagian Humas Rumah Sakit tentang peliputan nanti. Berita tentang “keberhasilan kecil” dan tentang peliputan nanti siang dengan begitu cepat menyebar di antara karyawan Rumah Sakit. “Waduh, gw jadi topik hangat nih!!”, batinku geli. Aku pun segera menelpon Mbak *&^%$ tentang hal ini. Jam 10 nanti mereka akan tiba di rumahku.
“Tolong SMS-in alamat rumah kamu ya Nald!!”, serunya.
“Ok Mbak,segera aku SMS. Ntar kalo nyasar-nyasar, telpon aku aja.”, rentetku.
Setelah pamit pada Boss dan teman-temanku, aku segera pulang. Aku harus membereskan rumah dan membeli beberapa makanan kecil untuk mereka nanti.
Jam 10 pagi, orang-orang Fremantle dan RCTI belum juga tiba di rumahku. Aku telpon, katanya mereka agak terlambat karena satu dan lain hal. Pukul 11 mereka akhirnya tiba juga di rumahku. Kurang lebih ada 10 orang yang datang termasuk seorang kameramen. Waduh, deg-degan rasanya, tapi senang juga. Rasa malu dan grogi menyelinap pula terkadang. Malu ketika banyak tetanggaku yang melihat aku dan keluargaku diinterview. Grogi ketika harus berbicara di hadapan kamera. Sorot lampu membuat aku semakin menjadi pusat perhatian. Oh, Tuhan beginikah rasanya?? Apakah hal ini akan banyak terjadi masa depanku? Entahlah, saat ini aku cuma berusaha tenang, dan menjalani shooting ini dengan baik. Mereka merekam gambarku di kamarku, di ruang tamu bersama kedua orang tuaku, di ruang makan dan yang paling heboh adalah ketika aku di shoot sambil berjalan ke depan gang rumahku seolah-olah aku akan berangkat kerja. Hehehe, kaku rasanya gerak tubuhku. Tapi tak apalah, mereka juga mengerti, aku
Hujan turun ketika aku dan Crew RCTI akan berangkat ke Rumah Sakit. Untunglah hanya sebentar. Pukul setengah 2 siang, aku berangkat bersama Crew RCTI ke Rumah Sakit. Bangga rasanya bisa naik mobil berlogo RCTI itu, tiap orang yang melihat mobil itu pasti langsung mengarahkan pandangannya ke mobil itu. 5 menit kami sudah sampai di Rumah Sakit. Rupanya pihak Humas sudah menanti dari tadi. Crew RCTI yang bertugas pun langsung berbicara dengan pihak Humas Rumah Sakit. Tanpa berpanjang lebar, shooting langsung dimulai. Aku pura-pura bekerja dan mereka merekam gambarku. Karyawan lain banyak yang melihatku, belum lagi pasien dan keluarganya yang cukup heboh pula. “
“Nald, terima kasih ya buat waktunya, sorry lho kalo ganggu waktu kerja kamu!!”, seru Mbak itu.
“Ga apa-apa Mbak, ga ganggu kok. Justru aku seneng. Kalo ada lagi yang bisa aku bantu, kabarin aja ya.”, jawabku.
“Ok deh. Kami balik ke SABUGA dulu ya. Sampai ketemu di
“Dag..”, ujarku sambil melambaikan tangan ke arah mereka.
Ya, sampai bertemu di
|..yang akan kami bawa disini..|
Label: indonesian idol
21 Oktober 2008
Malam itu perasaanku tak karuan rasanya. Aku hubungi Sarah tapi tak ada tanggapan. Akhirnya aku hubungi Evi, sahabatku, untuk berbagi rasa gembira yang bergejolak di jiwaku saat itu. Ingin rasanya aku berbagi cerita juga kepada orang tuaku. Tapi aku tertahan oleh nasehat mereka beberapa waktu yang lalu. Perkataan mereka masih terekam jelas dalam benakku,“Sudah, kamu kerja saja yang betul, tidak usahlah kamu ikut-ikut audisi kayak gitu!!”.
Aku tahu kalau maksud mereka baik. Mereka sepertinya sudah bosan melihat perjuanganku yang selalu gagal dalam audisi-audisi sebelumnya. Paling bagus aku hanya masuk 50 Besar
Pagi yang cerah, sisa-sisa hujan kemarin menyisakan kesegaran di awal hari itu. Jam masih berkutat di pukul 8 pagi. “Masih banyak waktu.”,pikirku. Hari itu kebetulan aku mendapatkan jatah libur dari Rumah Sakit tempatku bekerja. Judging Room akan dimulai pukul 10 pagi, aku mendapat jadwal audisi jam 2 sore, namun aku diharuskan tiba di SABUGA jam 1 siang. Sambil menunggu waktu, aku mempersiapkan “perlengkapan perang”ku nanti,hehehe. Seperti biasa black postman bag berisi handuk kecil dan sabun muka (aku tak mau mukaku tampak berminyak di depan juri-juri nanti), dua buah roti dan sebotol teh kemasan yang aku beli dari supermarket. Untuk pakaian aku akan memakai jeans warna khaki, kemeja kotak-kotak lengan panjang yang ditumpuk dengan t-shirt putih bergambar pria kembar berkacamata, tidak lupa sepatu keds warna coklat muda yang akan menyempurnakan penampilanku di saat audisi nanti.
Sudah pukul 11.30, saatnya aku mandi dan bersiap-siap. Jam 12.30 nanti aku akan berangkat. Perjalanan ke SABUGA paling memakan waktu 30 menit dari rumahku, apalagi hari itu adalah hari Jumat, jalanan relatif lengang. Mandi, makan, akupun pergi. Tidak lupa pamit untuk “main ke rumah temen” kepada orangtuaku, karena mereka tahu kalau hari itu aku sedang libur. Siang itu sangat cerah, secerah hatiku yang amat bersemangat saat itu. Pukul 1 siang aku telah sampai di SABUGA. Aku langsung mendatangi meja registrasi yang telah dipenuhi antrean para peserta yang lolos hari-hari kemarin. Disana aku bertemu dengan beberapa temanku yang sudah “langganan” audisi sepertiku. Selagi mengantre tiba-tiba Atta, presenter Indonesian Idol, mendatangi kami. Oh my God, that fames Atta ada di hadapanku, dan aku cuma bisa terpaku tanda ketakpercayaanku akan apa yang aku lihat saat itu. Atta melihat keterpakuanku padanya dan dia tersenyum sambil berkata “Hi” padaku, akupun membalas sapaannya.Senangnya!!.
Rupanya audisi yang dijadwalkan dimulai pukul 10 pagi tadi belum dimulai juga karena alasan yang aku tidak tahu pasti. “Wah, peserta yang jadwal audisinya jam 10 pagi aja belum diaudisi, apalagi aku yang dijadwalkan audisi jam 2 sore?. Kayaknya aku bisa audisi malam hari nih!!”, pikirku. Tapi tak apalah, untungnya aku libur hari ini, tak ada yang aku kejar harus aku lakukan selain audisi ini. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan peserta lain, aku baru tahu kalau dari sekitar 7000 peserta yang mengikuti audisi Indonesian Idol di Bandung, hanya 150 peserta saja yang berhasil lolos ke babak Judging Room ini. Wah, berarti aku hebat juga ya!! Hehehe,mulai sombong. 150 peserta itu juga dibagi menjadi 2 kelompok, 75 orang yang mengikuti Judging Room hari, 75 orang sisanya esok hari. Aku termasuk 5 peserta terakhir yang akan diaudisi hari itu. Waktu masih lama, aku habiskan waktu dengan bersenda gurau, bernyanyi, pipis berulang kali ke toilet,hehehe. Peserta lain juga banyak yang menunggu waktu audisi mereka dengan bernyanyi-nyanyi di holding room tempat kami menunggu giliran audisi. Wah..suara mereka bagus-bagus!! Dengar punya dengar, katanya ada yang Juara Bintang Radio&Televisi lah, Juara Festival ini lah, Festival itu lah, tak heran kalau mereka bisa sampai pada tahapan ini.
Jam 3 sore babak Judging Room pun dimulai. 5 peserta pertama dipanggil oleh panitia dengan menyebutkan nomor peserta mereka. Mereka mendapatkan applaus yang begitu meriah, karena dianggap peserta yang akan “memperawani” ruang “penyiksaan” itu,hehehe.
“Ayo, bersemangat!!”, kata seorang peserta yang sedang menunggu.
“Chaiyo!!”, timpal peserta yang lain.
Sementara yang lain entah bercanda atau memang percaya dirinya berlebihan berkata “Sampai jumpa di
Hahaha, kalimat “Sampai Jumpa di Jakarta” adalah “kalimat sakti” yang paling ditunggu oleh setiap peserta yang lolos babak Judging Room ini, karena itu artinya mereka berhak masuk babak Eliminasi yang berisikan 100 besar peserta dengan suara dan performa yang teramat sangat prima. “Piuuhh!! It’s gonna be tough.”,pikirku saat itu.
Satu persatu peserta pun dipanggil dan masuk ke Judging Room. Dari panitia kami bisa tahu peserta nomor berapa saja yang berhasil atau gagal di babak Judging Room ini. Sudah hampir setengah peserta dipanggil ke dalam, namun baru sedikit sekali yang berhasil lolos ke babak berikutnya. Saat itu sudah pukul 5 sore, sudah sekitar 40 peserta yang diaudisi, namun baru 7 orang saja yang lolos. “Ya, Tuhan, apa yang terjadi di dalam
Judging Room sempat terhenti karena Sholat Maghrib dan Isya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam. Tinggal kelompokku, 5 orang terakhir yang akan memasuki Judging Room. Kami pun dibawa oleh seorang panitia dari holding room menuju ruang tunggu Judging Room. Urutannya adalah peserta laki-laki,kita sebut saja si A, kemudian Firman (sekarang menjadi vokalis The Fly), Aku, seorang peserta wanita,kita sebut saja si B, kemudian Queen (masuk babak Workshop Idol 2). Iseng-iseng aku bertanya pada salah satu panitia sudah berapa peserta yang lolos sampai saat itu, “8 orang”, katanya. Itu berarti dari 70 peserta yang sudah diaudisi hanya 8 orang saja yang lolos. Tapi aku sungguh tak peduli. Aku justru semakin terpacu untuk memberikan kemampuan bernyanyiku yang terbaik. Lolos atau tidak, aku sungguh tak lagi peduli. Biarkan Tuhan yang menentukan. Lagi pula bukankah aku sendiri yang bilang kalau bisa bertemu dengan 4 orang juri itu saja aku sudah senang dan bersyukur. Jadi apa lagi yang aku harapkan lebih? Dalam hitungan menit saja aku akan segera berhadapan dengan mereka. Beragam rasa bergejolak menjadi satu dalam diriku. Aku tak mau begini. Aku mengambil waktu untuk berdiam, aku tundukkan kepalaku dan aku berdoa mohon ketenangan kepada Tuhan. Aku katakan “Tuhan, ini adalah waktuMu. Biarlah Kau yang bernyanyi..aku mau belajar untuk tidak mengandalkan kekuatanku sendiri. Mari Kau yang sertai aku. Amin”. Legaaaaa..rasanya..
Si A pun masuk kedalam. Sayup-sayup suaranya terdengar ke luar, masih aku ingat, saat itu ia menyanyikan lagu berjudul “Mandy” yang pernah dipopulerkan oleh Westlife. Atta dan kameramen telah bersiap di depan pintu untuk menanyai si A tentang hasil audisinya barusan. Tak lama kemudian ia pun keluar dengan langkah gontai,
“Saya ga lolos. Mungkin belum saatnya.”, katanya dengan suara yang lemah.
“Tahun depan kalau ada kesempatan kamu harus coba lagi, semangat!!, timpal Atta menyemangati si A. Sedih juga rasanya melihat kejadian yang baru saja berlangsung di depan mataku itu.
Kemudian Firman masuk. Sebetulnya aku agak-agak kurang suka dengan gayanya Firman saat itu, body language-nya masuk kategori “ngehe”,hehehe, ditambah dengan kacamata hitamnya yang tak pernah lepas dari tadi siang. Suaranya sih bagus, sangat berkarakter, serak-serak basah seperti Rod Steward. Tapi ya sudahlah, aku tak mau pikiran ini menghancurkan konsentrasiku. Tak lama kemudian Firman keluar. Atta dan kameramen bersiap di depan pintu.
“LOLOS!!”, katanya setengah berteriak sambil menunjukkan Golden Ticket bertuliskan nomer persertanya, pertanda ia berhak maju ke babak berikutnya di
“Selamat malam.”, aku langsung menyapa keempat juri itu. Aku ingin memberikan kesan santai dan ramah kepada mereka. Padahal jantungku dag dig dug tak karuan. Tak lupa seberkas senyum aku pasangkan diwajahku ini.
“Selamat malam, nomor 1283..nama kamu Ronald ya?”, Tanya Mbak Titi DJ.
Ya Tuhan, seorang Titi DJ bertanya padaku.hehehe..norak ya aku??
“Iya Mbak.”, jawabku. Berusaha terdengar tetap santai.
“Kamu mau bawain lagu apa?”, Tanya Mas Indra Lesmana.
Ya Tuhan, sekarang giliran seorang Indra Lesmana yang menanyaiku,hehehe,kembali norak.
“Saya akan bawain lagunya Babyface, Exhale.”,jawabku.
“Exhale??”, Tanya Mbak Titi menyiratkan keraguan.
“Iya.”, sambungku. Aku mengerti keraguan Mbak Titi, lagu ini memang cukup sulit untuk dinyanyikan. Maka aku pun kembali bernyanyi..
Everyone falls, in love sometimes
Sometimes it's wrong, and sometimes it's right
For every win, someone must fail
But there comes a point when...
When we exhale, yeah yeah
Say, shoop, shoop, shoop...
All you gotta do is say shoop, shoop, shoop...
My Lord now, shoop, shoop...
Sometimes you laugh, sometimes you cry
Life never tells us, the whens and whys
When you've got friends, to wish you well
You'll find a point when, you will exhale
Yeah, yeah
Say, shoop, shoop, shoop..
Say shoobedoo...
Oh, hearts are often broken
When there are words unspoken
In your soul there's, answers to your prayers
If you're searching for, a place you know
A familiar face, somewhere to go
You should look inside your soul
And you're half way there…
“Udah .”, aku memecah keheningan.
“Oh,udah. Wow..sungguh suatu akrobatik tekhnik vocal!! Saya suka.”, rentet Mbak titi.
“Hah?? Bener nih yang aku baru saja dengar?? Titi DJ menyukai suaraku!!”, jeritku dalam hati.
Lalu giliran Mas Yovie Widianto, yang ternyata di Indonesian Idol 2 ini menggantikan posisi Dimas Djay sebagai juri, berkomentar..
“Secara vocal saya suka, suaranya memenuhi kriteria yang kita cari”, kata Mas Yovie.
“Waduh, udah 2 juri nih yang suka suaraku!!”, jeritku lagi dalam hati.
“Kalau menurut lo gimana Meuthia??”, Tanya Mas Indra pada Mbak Meuthia Kasim.
“Saya bingung kamu nyanyi apaan?? Kalo nyanyi jangan terlalu banyak dekorasi deh!!”, rentet Mbak Meuthia.
Juri yang lain dan para crew yang ada di ruangan itu tertawa mendengar komentar Mbak Meuthia Kasim. Dekorasi!! Maksudnya improvisasi. Padahal aku tak berimprovisasi sendiri, aku hanya menyanyikan melodi yang Babyface nyanyikan, memang penuh nada-nada yang naik turun, tinggi rendah dan “keriting” disana-sini,hehehe.
“Atau mungkin harus pake musik ya biar aku ngerti lagunya??, sambung Mbak Meuthia.
Tiba-tiba handphone Mas Yovie berbunyi. Sambil mengangkat handphonenya, Mas Yovie berkata, “Iya, kayaknya harus pake musik, buktinya handphone gw bunyi,hehehe.”
“Kalo gw sih suka, apalagi falsettonya bagus.”, kata Mas Indra.
“Yippiiieee..3 orang juri suka suaraku, berarti aku lolos dong??” teriakku dalam hati. Tapi aku tak berani menyimpulkan sendiri sebelum Mas Indra sebagai Ketua Dewan Juri mengatakan “kalimat sakti” itu secara langsung padaku.
“Iya, perpindahan antara suara asli ke falsettonya mulus banget!!
“
“Jadi gimana nih Thi??”, Tanya Mas Indra pada Mbak Meuthia.
“Suaranya sih OK, tapi gw kayak kurang ngeliat adanya factor X di dia!!”,jawab Mbak Meuthia.
“Waduh..sepertinya langkahku akan terjegal oleh komentar Mbak Meuthia nih.”, batinku.
Tapi kemudian Mbak Meuthia melanjutkan omongannya..
“Ya udah, gini aja, coba kamu yakinkan saya, kamu nyanyi lagu
Aku pun menyanyikan lagu Harvey Malaiholo..
Biarkanlah mereka yang takkan mengerti tentang cinta kita
Ku tak akan berhenti mencintai dirimu kasih agar kau mengerti
‘Tuk terakhir ku mohon engkau mengerti..
“OK deh!!”,Mbak Meuthia memecah kesunyian.
“Apa??”,kataku dalam hati seolah tak percaya kalau Mbak Meuthia yang terkenal dengan komentarnya yang “silet” itu akhirnya luluh juga dengan suaraku,hehehe.
Baiklah, ini saat yang aku nanti-nanti..Mas Indra bersiap akan mengatakan sesuatu..
“Ok Ronald, kita semua suka ama suara kamu.. Kamu lolos ke babak Eliminasi. Sampai jumpa di
“Saya lolos Mas, Mbak?”,tanyaku benar-benar tak percaya.
“Iya!!”, jawab Mas Indra Lesmana.
“Wah..terima kasih. Selamat malam semuanya!!”, aku menutup penjurianku malam itu dengan berusaha tetap bersikap ramah.
Ingin rasanya aku berteriak dan berlari meluapkan kegembiraanku. Namun sebelum keluar dari ruangan itu aku masih harus mengambil Golden Ticket yang masih ditulis oleh panitia yang bertugas. Setelah selesai, akupun memegang Golden Ticket itu, namun aku sembunyikan di punggungku. Aku berencana “membohongi” teman-teman gerejaku yang berada diluar bersama Atta dengan mengatakan kalau aku gagal. Aku pun memasang muka sedih,aku membuka pintu dan..
“Horeeee…Ronald selamat ya!!, teman-temanku dan para crew bertepuk tangan menyambut keberhasilanku.
“Lho kok kalian tahu sih? Gw
“Yee, kita
“Hehehe, selamat ya Ronald. Gimana sekarang perasaannya?”, rentet Atta diiringi kameramen yang merekam wawancara kami. Aku pun dibawa ke Video Booth untuk diwawancara sebentar. Setelah itu aku diantar oleh seorang panitia ke lantai atas untuk melakukan registrasi ulang dan briefing tentang segala sesuatu hal untuk kepentingan babak eliminasi di
Kamipun berpisah, pulang ke rumah kami masing-masing. Aku tak sabar ingin segera tiba di rumah dan memberitahukan kabar gembira ini pada orang tuaku.
“Pak sopir cepetan dong..ngetem mulu dari tadi!!"
|..hanya bahagia..|
Label: indonesian idol



